Program-Program Pengelolaan Lingkungan

globeSebagaimana disebutkan di atas, bahwa peran pemerintah sangat besar pada tahun 80-an yang merupakan gambaran prinsip ‘command and control’, pemerintah memberikan aturan yang harus dijalankan dan mengawasi apakah perintah tersebut dilaksanakan dengan baik. Dengan kondisi kepedulian masyarakat yang belum tinggi dan belum berfungsinya elemen-elemen pengelolaan lingkungan seperti LSM, konsultan dan auditor maka praktek tersebut mungkin merupakan pilihan terbaik.

Beberapa program pengelolaan lingkungan yang dikembangkan oleh pemerintah antara lain: Amdal, Prokasih, Adipura, Super B3, Penghargaan Kalpataru, Produksi Bersih, Proper Prokasih, dan Langit Biru. Separuh dari program tersebut merupakan bentuk ‘command and control’ sedangkan yang lain adalah program-program sukarela. Perubahan dalam konsep ini merupakan bentuk adaptasi dari pengaruh luar juga karena pada kenyataannya ‘perintah dan awasi’ membutuhkan biaya yang mahal dan dalam konteks Indonesia sangat langka pemerintah berhasil memenangkan pengadilan masalah lingkungan ini.

Menyadari kenyataan ini dan juga angin baru dari dunia internasional, ISO 14001 memberikan alternatif bagi penerapan prinsip ‘sukarela’. Suatu tanggung jawab yang dipilih oleh perusahaan tanpa tekanan kecuali demi komitmen terhadap lingkungan atau tekanan pasar karena konsumen menginginkannya. Dengan mengembangkan ISO 14001 sebagian dari tanggung jawab pemerintah akan dikerjakan oleh perusahaan itu sendiri dengan bantuan badan-badan sertifikasi, konsultan dan auditor-auditor lingkungan.

AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan)
Dokumen AMDAL memuat studi mengenai dampak-dampak lingkungan yang mungkin timbul dari suatu kegiatan yang direncanakan, baik pada tahapan Pra-konstruksi, Konstruksi dan Paska Konstruksi. Dokumen ini harus mendapat persetujuan dari otoritas pemerintah sebagai salah satu persyaratan ijin bagi perusahaan untuk menjalankan aktivitas baru tersebut. Persyaratan-persyaratan yang dituangkan dalam dokumen merupakan suatu ikatan hukum bagi perusahaan terkait sehingga AMDAL harus menjadi bagian dari system manajemen lingkungan perusahaan.

RKL/RPL (Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan)
Merupakan dokumen yang menggambarkan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sebagai kewajiban perusahaan dalam memenuhi persyaratan peraturan. Dokumen ini menguraikan upaya-upaya untuk mengendalikan dampak-dampak penting lingkungan sebagaimana disajikan dalam studi AMDAL. Segala bentuk pengelolaan lingkungan yang tercantum dalam dokumen ini harus menjadi bagian dari SML perusahaan termasuk parameter-parameter yang harus dipantau oleh perusahaan.

UKL/UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan)
Bagi aktivitas-aktivitas yang menimbulkan dampak kecil (berdasarkan pedoman yang diberikan oleh pemerintah) maka perusahaan tidak perlu membuat AMDAL tetapi harus membuat suatu UKL/UPL yang berisi informasi seperti halnya dalam RKL/RPL.

PROKASIH (PROGRAM KALI BERSIH)
Program ini sangat popular pada awal tahun 1990-an ketika pada saat itu semua pihak terkait hanya mengenal dan memusatkan perhatian pada dampak terhadap pencemaran air. Perusahaan-perusahaan yang masuk dalam skema Prokasih harus membuang limbah cairnya di bawah baku mutu efluen yang relevan. Jelas disini bahwa maksud program ini adalah untuk meningkatkan praktek penegakan peraturan.

SUPER B3 (SURAT PERNYATAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN)
Ketika diundangkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1994 Pemerintah perlu suatu mekanisma yang menjamin bahwa perusahaan menetapkan karakteristik limbah dan mengelolannya berdasarkan ketentuan peraturan tersebut. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang mirip dengan PROKASIH yang relatif telah berhasil dengan baik.

PROPER PROKASIH
Merupakan suatu penilaian kinerja lingkungan perusahaan menjadi 5 peringkat dari atas ke bawah adalah emas (emisi nil), hijau (lebih baik dari baku mutu pemerintah), biru (sesuai dengan baku mutu pemerintah), merah (belum memenuhi baku mutu), and hitam (jauh di bawah persyaratan dan ada masalah lingkungan). Penilaian yang diberikan berdasarkan pada persyaratan-persyaratan yang terdapat dalam Peraturan-peraturan Lingkungan.

MINIMISASI LIMBAH/PRODUKSI BERSIH
Pada awal tahun 1990-an, pemerintah mulai mendengungkan konsep minimisasi limbah sejalan dengan penegakan hukum terhadap buangan akhir (end of pipe) atau dengan kata lain pada waktu itu sifatnya sebagai suatu himbauan. Program ini mendorong perusahaan untuk memprioritaskan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, dan Recovery) dibandingkan pada pengolahan akhir dengan IPAL, APPU atau alat pengendali pencemaran yang sifatnya adalah mengurangi besarnya dampak semata. Perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan 4R akan mudah untuk membuktikan bahwa komitmen ‘Pencegahan Pencemaran’ telah diterapkan di pabrik mereka.

LANGIT BIRU
Program ini telah menyadarkan masyarakat luas bahwa kita hidup di dalam ruang yang tidak sehat dan harus mengambil tindakan yang diperlukan. Pendekatan secara institusi juga telah berhasil menggerakkan pemerintah daerah untuk turut meningkatkan kualitas udara di daerah mereka. Selain mendapatkan kerjasama dari pabrik-pabrik besar sebagai sumber pencemar dari sektor tidak bergerak tetapi juga pada sumber-sumber pencemaran udara dari sumber bergerak seperti kendaraan bermotor di kota-kota besar. Sistem manajemen lingkungan harus mencakup upaya-upaya yang diperlukan untuk menyelaraskan program langit biru perusahaan dengan kebijakan lingkungan.

LAUT BIRU
Secara legal media laut merupakan sektor lingkungan paling akhir yang dilindungi dengan suatu peraturan lingkungan, khususnya dengan diterbitkannya PP No. 18/1999. Walaupun praktek-praktek perlindungan lingkungan telah dilakukan dengan baik dengan bersandarkan pada aturan-aturan internasional seperti Marine Pollution, API, dan lain-lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>