Monthly Archives: August 2009

TINJAUAN MANAJEMEN

Manajemen Puncak organisasi harus, pada interval yang ditetapkan, mengkaji ulang sistem manajemen lingkungan, untuk menjamin kesesuaian, kecukupan dan keefektifan yang berkesinambungan. Proses tinjauan manajemen harus menjamin bahwa informasi yang diperlukan terkumpul sehingga memungkinkan manajemen melakukan evaluasi tersebut. Tinjauan ini harus didokumentasikan.

 

Tinjauan manajemen harus membahas keperluan yang mungkin untuk merubah kebijakan, tujuan dan elemen-elemen lain sistem manajemen lingkungan, berdasarkan hasil-hasil audit internal sistem manajemen lingkungan, keadaan-keadaan yang berubah dan komitmen terhadap peningkatan berkelanjutan.

 

(Sumber: ISO 14001: 1996)

AUDIT SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN

Audit SMLOrganisasi harus membuat dan memelihara suatu program dan prosedur audit sistem manajemen lingkungan yang dilakukan secara periodik, bertujuan supaya

  1. a.      menentukan apakah sistem manajemen lingkungan:

1)      sesuai dengan rancangan yang dibuat termasuk persyaratan Standar Internasional ini; dan

2)      telah diterapkan dan dipelihara dengan baik; dan

  1. b.      menyediakan informasi terhadap hasil-hasil audit kepada manajemen

CATATAN

CatatanOrganisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk identifikasi, pemeliharaan dan pembuangan catatan lingkungan. Catatan-catatan ini harus mencakup catatan pelatihan dan hasil-hasil audit dan tinjauan manajemen.

 Catatan lingkungan harus dapat dibaca, teridentifikasi dan tertelusur terhadap kegiatan, produk atau jasa terkait. Catatan lingkunga disimpan dan dipelihara dalam suatu cara sehingga mudah diambil dan dilindungi dari kerusakan, keausan atau hilang. Waktu retensi harus ditetapkan dan dicatat.

 Catatan harus dipelihara, disesuaikan dengan sistem dan organisasi, untuk menunjukkan kesesuaian persyaratan standar internasional ini.

 (Sumber: ISO 14001: 1996)

 

URAIAN

Perubahan besar yang dikenalkan Sistem Manajemen Lingkungan bagi perusahaan yang baru memulai penerapan sistem manajemen adalah berbagai penerapan pengelolaan lingkungan harus tercatat baik sebagai bukti untuk pihak ketiga (badan sertifikasi) atau untuk pelaporan kepada manajemen dan bahan evaluasi kinerja penerapan itu sendiri. Dengan ISO kita tidak dapat lagi sekedar membuktikan pekerjaan dengan lisan tetapi harus tersedia suatu catatan tertulis yang dapat dibaca dan disimpan untuk referensi kerja. Walaupun tidak berarti bahwa setiap langkah pekerjaan harus ditulis, perusahaan harus mampu membuat titik-titik penting yang membutuhkan pencatatan. Catatan juga tidak harus berupa cetakan pada kertas tetapi dapat berupa data elektronik di dalam komputer.

 

Perbedaan catatan dan dokumen adalah catatan merupakan sejarah suatu kegiatan yang telah terjadi sehingga tidak dapat diubah. Dokumen sebaliknya dapat diubah dan harus dikendalikan penggunaannya supaya tidak ada kerancuan dalam pemakaian terbitan yang sah sedangkan catatan cukup disimpan dan dipelihara. Tergantung pada perusahaan untuk memilih catatan-catatan yang akan dipelihara. Beberapa contoh catatan lingkungan adalah pelatihan aspek lingkungan; tujuan/ sasaran; komunikasi internal; dan daftar revisi dokumen.

 

Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk identifikasi, pemeliharaan dan pemusnahan catatan lingkungan. Catatan-catatan ini harus mencakup catatan pelatihan dan hasil-hasil audit dan tinjauan manajemen.

 

Catatan lingkungan merupakan bukti kerja para karyawan, informasi yang sangat penting bagi pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan alat bagi terciptanya standar kerja yang konsisten. Oleh karena itu catatan lingkungan harus dipelihara dengan baik. Prosedur diperlukan untuk memelihara catatan-catatan lingkungan yang dihasilkan dari aktivitas SML khususnya apabila kegiatan ini termasuk bersifat inter departemen. Misalnya, bukti serah terima limbah padat dari bagian produksi kepada bagian lingkungan dan seterusnya kepada pihak ketiga. Untuk bukti legal (bila diperlukan) catatan seperti ini sangat berguna bagi perusahaan.

 

Masing-masing departemen atau seksi harus membuat daftar catatan yang disimpan dan dipelihara dalam areanya, menentukan waktu simpan disesuaikan dengan tingkat pentingnya catatan tersebut dan ketersediaan ruang untuk penyimpanan. Sebagai panduan, catatan-catatan yang terkait dengan keperluan hukum seperti ijin-ijin sebaiknya disimpan dalam jangka waktu yang lama 20 tahun. Sedangkan catatan-catatan yang isinya biasa dapat disimpan sampai perioda 2 semester. Pada prinsipnya, pemeliharaan dan pengaturan ini bertujuan untuk menjamin bahwa data-data tersebut tidak musnah sebelum waktunya dan mudah didapat ketika dibutuhkan. Pernahkah anda menghitung berapa kali dalam satu tahun ini anda kesulitan untuk mencari suatu laporan atau informasi lain yang dibutuhkan dalam waktu yang singkat?

 

Standar menambahkan informasi tambahan bahwa catatan tersebut harus termasuk hasil pelatihan dan hasil audit SML. Alasan dibalik pernyataan ini tentu cukup jelas bahwa catatan kompetensi karyawan dari hasil-hasil pelatihan harus tersedia untuk memungkinkan evaluasi dan tindak lanjut di dalam memelihara sumber daya manusia. Sedangkan hasil audit internal merupakan informasi yang berisi kekuatan dan kelemahan dari sistem manajemen perusahaan. Manajemen sangat membutuhkan informasi yang terkandung dalam catatan tersebut di dalam membuat keputusan-keputusan bagi efektivitas dan efisiens sistem.

 

Catatan lingkungan harus dapat dibaca, teridentifikasi dan sesuai dengan kegiatan, produk atau jasa terkait. Catatan lingkungan disimpan dan dipelihara dalam suatu cara sehingga mudah diambil dan dilindungi dari kerusakan, keausan atau hilang. Waktu retensi harus ditetapkan dan dicatat.

 

Catatan tidak terbaca karena kualitas kertas dan tempat penyimpanan yang terlalu lembab. Pemeliharaan catatan dilakukan dengan menyediakan suatu rak khusus sehingga memudahkan  penempatan dan pengambilan kembali. Termasuk dengan membuat suatu direktori jenis catatan, baik berdasarkan tanggal, subyek catatan, dan abjad.

 

Kita juga tidak perlu untuk menyimpan catatan selamanya, selain karena informasi tersebut sudah kadaluwarsa dan tidak cukup ruang untuk menyimpan kertas-kertas tersebut. Jumlah catatan yang terlalu besar juga akan menyulitkan dalam penempatan dan pemilahan-pemilahan sehingga catatan mudah diperoleh. Perusahaan harus menetapkan lamanya waktu penyimpanan yang disesuaikan dengan kepentingan.

 

Catatan harus dipelihara, disesuaikan dengan sistem dan organisasi, untuk menunjukkan kesesuaian persyaratan standar internasional ini

 

Di dalam awal perkembangan ISO di Indonesia banyak perusahaan menyajikan catatan dalam bahasa Inggris karena auditor badan sertifikasi pada saat itu berasal dari luar Indonesia. Oleh karenanya para karyawan dari tingkat menengah kebawah tidak memahami prosedur kerja mereka sendiri. Atau dalam kasus lain,

 

 

 

PERMASALAHAN

 

  1. Permasalahan yang sering muncul adalah kita terlalu banyak membuat catatan atau sebaliknya tidak cukup membuat catatan-catatan tersebut. Sebagai contoh, bagian pengelolaan limbah domestik mencatat jumlah limbah domestik harian walaupun volume yang dihasilkannya tidak besar sehingga jumlah limbah ini sebenarnya bertambah ketika awal dan akhir minggu saja. Sebagai akibatnya setiap hari harus operator harus menuliskan volume limbah yang sama di dalam format yang telah disediakan. Dengan kata lain, ada 7 lembar format yang memuat data sama. Pada titik ekstrim lain, perusahaan yang membuat catatan untuk klausa-klausa yang ada distandar saja seperti notulen tinjauan manajemen, hasil audit internal, pelatihan dan lain-lain serta tidak menggaggap data-data pengoperasian bukan bagian dari catatan lingkungan.
  2. Masalah lain adalah catatan lingkungan sering menjadi milik  pribadi, disimpan di suatu laci dibawah meja kepala seksi, dikunci dan jika sang pemilik sedang tidak masuk kerja maka tidak ada seorangpun punya akses terhadap catatan-catatan tersebut. Sebagai auditor, penulis harus menunggu  lama untuk mendapatkan suatu catatan dan disusulkan kemudian ketika audit sudah berpindah ke departemen lain. Kejadian ini menunjukkan bahwa ketika terjadi suatu pertemuan internal dan dibutuhkan data-data dalam catatan lingkungan, tidak tersedia informasi penting bagi pengambilan keputusan yang tepat dan akurat.

 

PENERAPAN

  1. Mendaftar catatan-catatan lingkungan dalam daftar induk. Langkah pertama adalah mendaftar catatan-catatan lingkungan, yang dapat diperoleh dengan kembali membaca prosedur dan instruksi kerja yang didalamnya menunjukkan data-data yang dihasilkan dari suatu kegiatan. Tetapi identifikasi catatan harus lebih luas dari sumber kegiatan yang disebut dalam prosedur-prosedur/ instruksi kerja.
  2. Menentukan penanggung jawab catatan-catatan terkait. Setelah diperoleh daftar catatan lingkungan di seluruh perusahaan dan komposisinya di masing-masing bagian maka harus ditetapkan pihak yang bertanggung jawab terhadap catatan-catatan tersebut untuk menjamin bahwa ada orang yang akan memeliharanya dan membatasi akses dari orang yang tidak diinginkan dapat memperoleh informasi dari catatan-catatan tersebut.
  3. Menyimpan sesuatu dengan prosedur. Melalui prosedur pengendalian catatan atau instruksi kerja ditetapkan tata cara penyimpanan dan pengelolaan catatan lingkungan, berisi mengenai pembuatan daftar induk, tugas penanggung jawab catatan, waktu simpan catatan, tata cara pemusnahan, dan lain-lain.
  4. Memelihara catatan-catatan tersebut. Tempat penyimpanan untuk catatan-catatan yang masih aktif dan yang tidak aktif yang dibuat dan difungsikan. Beberapa perusahaan menyediakan satu gudang khusus untuk menyimpan catatan-catatan yang tidak aktif tetapi belum melewati masa retensi.
  5. Memusnahkan jika sudah lebih dari waktu retensi. Penarikan dan pengumpulan catatan yang ketat akan menjamin ditemukaannya catatan-catatan liar yang sudah kadaluarsa. Beberapa perusahaan mengharuskan pemusnahan secara fisik dengan dibakar atau dicacah untuk menjamin kerancuan dan memusnahkan informasi rahasia yang terkandung di dalam catatan-catatan tersebut.

 

DOKUMENTASI

  1. Pedomen lingkungan.
  2. Prosedur pengendalian catatan lingkungan.
  3. Daftar Induk catatan linkungan, penanggung jawab dan waktu retensinya.

 

KESIMPULAN

Catatan lingkungan merupakan alat bagi tercapainya kinerja pengelolaan lingkungan yang konsisten, dengan menyediakan bukti-bukti penerapan prosedur, informasi sebagai bahan evaluasi dan pengetahuan dari data-data yang terkandung di dalam catatan. Tanpa catatan lingkungan, penerapan SML akan terjebak pada informasi lisan yang terbukti tidak andal, tidak lengkap dan akurat.

 

TABEL DAFTAR INDUK CATATAN LINGKUNGAN, Departemen Produksi 

No

Nama Catatan

Lokasi

PIC

Waktu retensi

1 Daftar Aspek dan Dampak Lingkungan Lemari A, File box 1 Ass. Kepala Departemen 3 tahun
2 Daftar Aspek Penting Lemari A, File box 1 Ass. Kepala Departemen 3 tahun
3 Daftar Peraturan Lingkungan Lemari A, File box 2 Kepala Departemen 1 tahun
4 Tujuan/Sasaran dan PML Lemari A, File box 1 Kepala Departemen 3 tahun
5 Ijin-ijin lingkungan Lemari A, File box 2 Ass. Kepala Departemen 5 tahun
6 Hasil Pemantauan Limbah Cair Lemari A, File box 2 Ass. Kepala Departemen 3 tahun
         

TINDAKAN PERBAIKAN DAN PENCEGAHAN

PerbaikanOrganisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk menetapkan tanggung jawab dan wewenang dalam penanganan dan penyelidikan ketidaksesuaian, membuat tindakan perbaikan untuk menghilangkan dampak yang ditimbulkan dan memulai tindakan perbaikan dan pencegahannya.

 Tindakan perbaikan dan pencegahan untuk mengeliminasi sebab-sebab nyata dan potensi ketidaksesuaian harus sesuai dengan besarnya masalah dan sepadan dengan dampak lingkungan yang dihadapi.

 Organisasi harus menerapkan dan mencatat setiap perubahan prosedur terdokumentasi sebagai akibat tindakan perbaikan dan pencegahan.

 (Sumber: ISO 14001: 1996)

URAIAN

SML mengajarkan bahwa setiap saat perusahaan harus mampu merespon jika dalam kegiatannya terjadi suatu ketidaksesuaian, penyimpangan terhadap tata kerja, potensi pencemaran dan lain sebagainya. Dengan elemen ini diharapkan organisasi tersebut sensitif terhadap deviasi-deviasi yang terjadi dari kegiatan harian, oleh karyawan itu sendiri tanpa keterlibatan pihak ketiga. Kemampuan dan keterlibatan setiap karyawan untuk mengenali setiap masalah besar atau kecil, mengevaluasi dan melakukan tindakan perbaikan akan memberikan jaminan bagi efektivitas dari sistem.

 

Ketidaksesuaian terjadi secara tunggal dan terisolir tetapi langsung terkait dengan tidak dipenuhi kriteria internal atau bahkan sudah terjadi pencemaran atau kerusakan lingkungan. Oleh karena itu perusahaan harus melakukan perbaikan (menutup kebocoran tangki, memasang label), menuliskan analisa ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan pencegahan.

 

Perusahaan tidak bisa mengandalkan mekanisma Pemeriksaan dari Internal Audit saja, walaupun dilakukan secara sistematis tetapi terbatas pada waktu tertentu sementara Penerapan CPAR akan melengkapi cakupan Pemeriksaan.

 

Organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk menetapkan tanggung jawab dan wewenang dalam penanganan dan penyelidikan ketidaksesuaian, membuat tindakan perbaikan untuk menghilangkan dampak yang ditimbulkan dan memulai tindakan perbaikan dan pencegahannya

.

Tanggung jawab harus ditetapkan sehingga setiap orang akan memiliki alasan untuk menyampaikan temuan-temuan mereka dan tidak tinggal diam ketika masalah terlihat di depan mata dan sampai sejauh mana wewenang yang diberikan untuk penanganannya. Selain itu perusahaan harus menciptakan suatu atmosfir bahwa menyampaikan ketidaksesuaian merupakan tindakan-tindakan yang terpuji dan mendapat penghargaan dan sebaliknya bagi bagian-bagian yang menerima laporan ketidaksesuaian harus belajar berterima kasih bahwa mereka telah mendapat masukan-masukan secara Cuma-Cuma. Walaupun bukan sesuatu yang mudah untuk diterapkan tetapi atmosfir itu harus menjadi target perusahaan.

 

Perusahaan harus membuat suatu prosedur yang berisi mekanisma penerbitan suatu laporan ketidaksesuaian, pelaksanaan tindakan perbaikan dan pencegahannya, sebagai bukti kesesuaian terhadap Standar. Suatu ketidaksesuaian terhadap prosedur kerja seperti kebocoran air mungkin langsung dapat diperbaiki dengan memperbaiki keran dan tidak mengeluarkan suatu laporan ketidaksesuaian. Dalam kasus lain, ketika terjadi tumpahan bahan kimia di tanah pada bongkar muat perlu dibuat laporan ketidaksesuaian karena deviasi tersebut tidak selesai dengan mengambil bahan kimia yang tercecer semata. Karyawan yang mengeluarkan laporan KTS ingin melihat apakah area tanah yang terkontaminasi telah dibuang dengan baik, penyebab tumpahan oleh keteledoran operator atau kesalahan prosedur. Ilustrasi ini ingin menunjukkan bahwa perusahaan harus menetapkan tingkatan kondisi ketidaksesuaian sehingga dapat membuat tanggapan atau tindak lanjut yang sesuai dengan permasalahan. Kembali SML jangan sampai terjebak pada praktek-praktek penulisan dokumen dan catatan semata.

 

Tindakan perbaikan dan pencegahan untuk mengeliminasi sebab-sebab nyata dan potensi ketidaksesuaian harus sesuai dengan besarnya masalah dan sepadan dengan dampak lingkungan yang dihadapi

 

Sumber-sumber ketidaksesuaian yang memerlukan tindakan perbaikan umumnya terdiri dari deviasi dari ketentuan prosedur yang ditemui di lapangan oleh karyawan seperti label yang tidak terpasang, tumpahan bahan kimia dari tempat penyimpanan; evaluasi terhadap hasil pemantauan dan pengukuran lingkungan seperti kandungan Amoniak di dalam limbah cair yang terlalu tinggi; keluhan atau komentar dari pihak-pihak terkait jika ada dampak negatif yang dirasakan oleh mereka dan audit lingkungan yang dilakukan oleh para auditor internal.

 

Setelah mendapatkan sumber-sumbernya maka perusahaan harus melakukan analisa/investigasi untuk melihat lebih dalam akar permasalahan. Tumpahan bahan kimia mungkin disebabkan oleh operator yang tidak kompeten, kondisi container yang sudah rusak, instruksi kerja pemuatan bahan kimia yang tidak jelas dan lain sebagainya. Esensinya adalah perusahaan harus mampu menemukan penyebab masalah termasuk potensi-potensi yang mungkin timbul dari keadaan-keadaan tersebut.

 

Dengan demikian, perusahaan akan mampu menanggapi atau memperbaiki masalah tersebut secara proporsional dan efektif. Jika penyimpangan disebabkan oleh keteledoran operator maka tindakan yang sepadan adalah memberikan briefing (atau bahkan  pelatihan) tentang tata cara penyimpanan bahan kimia. Tidak diperlukan perbaikan atau pengadaan alat baru, pembuatan prosedur baru, dan lain-lain yang bukan merupakan penyebab dari ketidaksesuaian tersebut. Perusahaan harus cukup hati-hati dalam menerima permintaan auditor eksternal untuk menyediakan alat dengan biaya tinggi yang belum tentu sebagai jawaban atas masalah tersebut.

 

Organisasi harus menerapkan dan mencatat setiap perubahan prosedur terdokumentasi sebagai akibat tindakan perbaikan dan pencegahan.

 

Tindakan perbaikan dan pencegahan merupakan umpan balik bagi sistem karena dari pelaksanaan elemen ini perusahaan akan mendapatkan informasi berupa jenis-jenis dan komposisi ketidaksesuaian dari sistem sehingga kita memiliki pengetahuan untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Perbaikan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam prosedur sehingga dapat digunakan sebagai standar kerja baru. 

 

PERMASALAHAN

  1. Berjalannya penerapan klausa ini tergantung pada keterlibatan para karyawan secara aktif dalam menyampaikan ketidaksesuaian yang ditemui dalam pekerjaan mereka sehari-hari. Keengganan untuk mengangkat masalah oleh berbagai macam alasan seperti takut kepada atasan, itu bukan urusan saya atau ketidaktahuan prosedur akan mengakumulasikan masalah menjadi besar hingga suatu saat tidak dapat tertangani lagi. Oleh karena itu, secepat mungkin masalah dikenali dan diperbaiki semakin mudah untuk ditangani.
  2. Di dalam menangani ketidaksesuaian perusahaan cenderung membatasi sampai tindakan perbaikan semata dan jarang perusahaan yang melakukan tindakan pencegahan sehingga masalah yang sama tidak berulang. Tindakan perbaikan adalah menangani masalah yang timbul saat itu dengan memperbaiki kesalahan atau kerusakan yang terjadi, sedangkan tindakan pencegahan merupakan bentuk penanganan jangka panjang untuk mencegah masalah yang sama berulang dengan melakukan analisa akar permasalahan. Di dalam melakukan tindakan pencegahan akan dilakukan pengumpulan data, kajian permasalahan dan menemukan akar permasalahannya yang diikuti dengan penetapan langkah pencegahan dan memantau keefektifannya.
  3. Karyawan tidak menuliskan dengan jelas masalah yang ditemui termasuk data-data pendukungnya, tanggal penyelesaian perbaikan dan tindakan perbaikan tidak menjawab persoalan yang terjadi.

 

PENERAPAN

  1. Identifikasi semua Ketidaksesuaian.  Ketidaksesuaian yang termasuk dalam elemen ini adalah ketidaksesuaian yang diperoleh diluar internal audit seperti dari insiden lingkungan, hasil pemantauan dan pengukuran, ketidakpatuhan terhadap peraturan, keluhan dari pihak-pihak terkait dan lain-lain. Internal audit terbatas pada jadual yang telah ditetapkan, satu atau dua kali dalam setahun, sedangkan TPP memberikan keleluasaan lebih besar karena setiap saat sepanjang tahun semua karyawan dapat mengeluarkan masalah-masalah itu secepatnya. Namun, TPP pada umumnya bukan berasal dari deviasi dari system tetapi lebih merupakan pelanggaran standar kerja yang terisolir. TPP akan menemukan satu atau dua kali pemantauan yang tidak dilakukan tetapi audit internal akan memberikan pemantauan yang secara sistematis tidak dilakukan dalam jangka waktu enam bulan. TPP dan audit internal harus saling melengkapi (lihat juga Bab Internal Audit).
  2. Investigasi untuk menentukan akar masalah. Penentuan akar masalah dapat dilakukan dengan berbagai teknik yang sudah banyak dikenal seperti Pareto diagram, peta masalah, dan lain-lain. Tim perlu diskusi dengan pihak-pihak yang telibat dengan masalah ini untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat serta untuk mendorong komitmen mereka, khususnya ketika harus menerapkan langkah-langkah perbaikannya. Dalam hal ini perlu dijaga untuk tidak menciptakan suatu situasi bahwa ketidaksesuaian merupakan kesalahan departemen/seksi terkait tetapi merupakan kelemahan sistem manajemen semata.
  3. Identifikasi dan melakukan tindakan perbaikan yang diperlukan termasuk tanggung jawab dan waktu penyelesaian. Ketika solusi sudah diketahui dan penanggung jawab sudah ditetapkan maka saatnya untuk menerapkan tindakan tersebut berdasarkan prioritas masalahnya termasuk didalamnya adalah faktor besarnya dampak, biaya perbaikan dan frekuensi terjadinya dampak. Untuk menjamin efektivitas tindakan perbaikan, penting untuk membuat rencana aksi dengan penanggung jawabnya sehingga akan mudah untuk melakukan verifikasi nantinya.
  4. Menerapkan atau modifikasi pengendalian operasi yang diperlukan untuk mencegah pengulangan ketidaksesuaian.
  5. Verifikasi efektivitas tindakan perbaikan dan pencegahan dan menutup TPP ini  jika dianggap sudah memenuhi.

 

DOKUMENTASI

  1. Manual lingkungan menjelaskan keberadaan dan fungsi Ketidaksesuaian dan Tindakan Perbaikan dan Pencegahan, termasuk keterkaitannya dengan klausa-klausa lain dalam Sistem.
  2. Prosedur Tindakan Perbaikan dan Pencegahan.
  3. Laporan Ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan pencegahan.
  4. Daftar Pemantauan Perbaikan dan Pencegahan.

 

KESIMPULAN

Pemeriksaan merupakan mekanisma yang berfungsi untuk memberikan indikasi ketika penerapan system keluar dari norma dan standar yang berlaku sehingga perusahaan mampu bereaksi untuk mengatasi masalah dan mencegah masalah menjadi semakin rumit dan tidak terangani. Keefektifan TPP ini jika semua karyawan terlibat secara proaktif menyampaikan masalah-masalah dalam penerapan SML dan perusahaan dapat mengelola deviasi tersebut dengan baik.

CONTOH: PROSEDUR KETIDAKSESUAIAN, TINDAKAN PERBAIKAN DAN PENCEGAHAN

PIC

TAHAPAN

DOKUMEN

 Semua karyawan

Seksi lingkungan

 

Semua karyawan

 

 

 

Pihak yang menerima laporan ketidaksesuaian

 

Pihak yang menerima laporan ketidaksesuaian

 

Penemu masalah

MR

 

Menemukan ketidaksesuaian dari pemantauan dan kegiatan sehari-hari

 

 

Menerbitkan Laporan Ketidaksesuaian

 

 

Melakukan investigasi dan menetapkan tindakan perbaikan dan pencegahan

 

 

Melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan

Verfikasi pelaksanaan tindakan perbaikan: Menutup laporan atau menerbitkan laporan baru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LKTK

 

 

 LKTK

 

 

 

 LKTK

 

 

 Semua dokumen terkait

 

 

LKTK