Our Services

In response to clients’ business dynamics, PMC offers implementation consultancy, customized in-house training, public seminars, assessment and outsourcing in the area of Strategy, People, Process and Technology.   Performance and Management System More »

Our Concepts

1. VISION AND MISSION Our Vision is: “To become a leading management consulting company in Indonesia” To accomplish its vision, the PMC mission will: To enlarge and enrich clients’ paradigms Assist clients More »

About Us

‘There is not truth in the world but merely paradigm’ (Gustave Flaubert). One is able to see a truth from his/ her paradigm, whilst the other finds other truth from his/her. Consequently, More »


4.5.1 Performance measurement and monitoring

4.5 Checking
4.5.1 Performance measurement and monitoring
The organization shall establish, implement and maintain a procedure(s) to monitor and measure OH&S performance on a regular basis. This procedure(s) shall provide for:
a) Both qualitative and quantitative measures, appropriate to the needs of the organization;
b) Monitoring of the extent to which the organization’s OH&S objectives are met;
c) Monitoring the effectiveness of controls (for health as well as for safety)
d) Proactive measures of performance that monitor conformance with the OH&S programme(s) controls and operational criteria;
e) Reactive measures of performance that monitor ill health, incidents (including accidents nearmisses, etc.) and other historical evidence of deficient OH&S performance.
f) Recording of data and results of monitoring and measurement sufficient to facilitate subsequent corrective action and preventive action analysis.
If equipment is required to monitor or measure performance, the organization shall establish and maintain procedures for the calibration and maintenance of such equipment, as appropriate.

Records of calibration and maintenance activities and results shall be retained.

4.5 Pemeriksaan
4.5.1 Pemantauan dan pengukuran kinerja
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara prosedur untuk memantau dan mengukur kinerja K3 secara teratur. Prosedur ini harus dibuat untuk:
a) Pengukuran kualitatif dan kuantitatif , sesuai dengan keperluan organisasi;
b) Memantau perluasan yang memungkinkan tujuan K3 organisasi tercapai.
c) Membantu efektifitas pengendalian pengendalian ( untuk kesehatan juga keselamatan);
d) Mengukur kinerja secara proaktif untuk memantau kesesuaian dengan program manajemen K3, pengendalian dan criteria operasional.
e) Mengukur kinerja secara reaktif untuk memantau kecelakaan, sakit penyakit, insiden (termasuk nyaris terjadi, dll) dan bukti catatan lainpenyimpangan kinerja K3;
f) Mencatat data dan hasil pemantauan dan mengukur kecukupan untuk melakukan analisis tindakan perbaikan dan pencegahan lanjutan.

Jika peralatan pemantauan digunakan untuk mengukur dan memantau kinerja, organisasi harus membuat dan memelihara prosedur untuk kalibrasi dan pemeliharaan peralatan tersebut, sesuai keperluan.

Catatan hasil kalibrasi dan pemeliharaan dan hasil-hasil harus disimpan.

4.4.7 Emergency preparedness and response

4.4.7 Emergency preparedness and response
The organization shall establish, implement and maintain procedure(s):
a) To identify the potential for emergency situations;
b) To respond to such emergency situations.
The organization shall response to actual emergency situations and prevent or mitigate associated adverse OH&S consequences.
In planning its emergency response the organization shall take account of the needs of relevant interested parties, e.g. emergency and neighbours.
The organization shall also periodically test its procedure(s) to respond to emergency situations, where practicable, involving relevant interested parties as appropriate.
The organization shall periodically review and, where necessary, revise its emergency preparedness and response procedure(s), in particular, after periodical testing and after the accurrence of emergency situations (see 4.5.3)
4.4.7 Kesiapsiagaan dan Tanggap darurat
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara prosedur;
a) Untuk mengidentifikasi potensi keadaan darurat
b) Untuk menanggapi keadaan darurat.
Organisasi harus menanggapi keadaan darurat actual dan mencegah atau mengurangi akibat-akibat penyimpangan terkait dengan dampak-dampak K3.
Dalam perencanaan tanggap darurat organisasi harus mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan pihak-pihak terkait yang relevan, missal jasa keadaan darurat dan masyarkat sekitar.
Organisasi harus pula secara berkala menguji prosedur untuk mananggapi keadaan darurat, jika dapat dilakukan, melibatkan pihak-pihak terkait yang relevan sesuai keperluan.
Organisasi harus meninjau secara periodic dan, bila diperlukan, merubah prosedur kesiapsiagaan dan tanggap darurat, secara khusus, setelah pengujian periodic dan setelah terjadinya keadaan darurat (lihat 4.5.3)

4.4.6 Operational Control

4.4.6 Operational Control
The organization shall determine those operations and activities that are associated with the identified hazard(s) where the implementation of controls is necessary to manage the OH&S risk(s). This shall include the management of change (see 4.3.1)
For those operations and activities, the organization shall implement and maintain:
a) Operational controls, as applicable to the organization and its activities; the organization shall integrate those operational controls into its overall OH&S management system.
b) Controls related to purchased goods, equipment and services;
c) Controls related to contractors and other visitors to the workplace;
d) Documented procedures, to cover situations where their absence could lead to deviations from the OH&S policy and the objectives.
e) Stipulated operating criteria where their absence could lead to deviations from the OH&S policy and objectives.

4.4.6 Pengendalian Operasional
Organisasi harus mengidentifikasi operasi-operasi dan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan bahaya-bahaya yang teridentifikasi di mana kendali pengukuran perlu dilakukan untuk mengendalikan risiko-risiko K3. Hal ini harus termasuk manajemen perubahan (lihat 4.3.1)
Untuk operasi-operasi dan kegiatan tersebut, organisasi harus menerapkan dan memelihara:
a) Kendali-kendali operasional, sesuai keperluan organisasi dan aktifitas-aktifitasnya; organisasi harus mengintegrasikan kendali-kendali operasionalnya ke dalam system manajemen K3 secara keseluruhan.
b) Pengendalian terkait pembelian material, peralatan dan jasa-jasa.
c) Pengendalian terkait para kontraktor dan tamu-tamu lain ke tempat kerja.
d) Mendokumentasikan prosedur-prosedur, mencakup situasi-situasi di mana ketiadaannya dapat menyebabkan penyimpangan-penyimpangan dari kebijakan dan tujuan-tujuan K3;
e) Kriteria-kriteria operasi yang telah ditetapkan di mana ketiadaanya dapat menyebabkan penyimpangan-penyimpangan dari kebijakan dan tujuan-tujuan K3.

4.4.5 Control of documents

4.4.5 Control of documents
Documents required by the OH&S management system and by this OH&S Standard shall be controlled, records are a special type of document and shall be controlled in accordance with the requirements given in 4.5.4
The organization shall establish, implement and maintain a procedure(s) to:
a) Approve documents for as adequacy prior to issue;
b) Review and update as necessary and re-approve documents;
c) Ensure that changes and the current revision status of documents are identified;
d) Ensure that relevant versions of applicable documents are available at points of use;
e) Ensure that documents remain legible and readily identifiable;
f) Ensure that documents of external origin determined by the organization to be necessary for the planning and operation of the OH&S management system are identified and their distribution controlled; and
g) Prevent the unintended use of obsolete documents and apply suitable identification to them if they are retained for any purpose.

4.4.5 Pengendalian dokumen
Dokumen-dokumen yang disyaratkan untuk system manajemen K3 dan standar OHSAS ini harus terkendali. Catatan merupahkan jenis khusus dokumen dan harus terkendali sesuai dengan persyaratan yang dinyatakan di 4.5.4
a) Menyetujui kecukupan dokumen-dokumen sebelum diterbitkan;
b) Meninjau dokumen secara berkala, dirubah bila diperlukan dan disetujui kecukupannya;
c) Memastikan perubahan-perubahan dan status revisi saat ini dalam dokumen teridentifikasi;
d) Memastikan versi yang relevan dari dokumen yang diterapkan tersedia ditempat penggunaan;
e) Memastikan bahwa dokumen-dokumen dapat terbaca dan dengan cepatteridentifikasi;
f) Memastikan bahwa dokumen-dokumen yang berasal dari luar dan dianggap penting oleh organisasi untuk perencanaan dan operasi system manajemen K3 diidenttiikasikan dan distribusinya terkendali; dan
g) Mencegah penggunaan dokumen kadaluarsa dan menetapkan identifikasi jika dipertahankan untuk tujuan tertentu.

4.4.4 Documentation

4.4.4 Documentation
The OH&S management system documentation shall include:
a) the OH&S policy and objectives;
b) description of the scope of the OH&S management system.
c) description of the main elements of the OH&S management system and their interaction, and reference to related document.
d) Documents, including records, required by this OHSAS Standards; and
e) Documents, including records, determined by the organization to be necessary to ensure the effective planning, operation and control of processes that relate to the management of its OH&S risk.

NOTE it is important that documentation is proportional to the level of complexity, hazards and risk concerned and is kept to the minimum required for effectiveness and efficiency.

4.4.4 Dokumentasi
Dokumentasi system manajemen K3 harus termasuk:
a) Kebijakan K3 dan sasaran-sasaran;
b) Penjelasan ruang lingkup system manajemen K3;
c) Penjelasan elemen-elemen inti system manajemen dan interaksinya, dan rujukannya ke dokumen-dokumen terkait.
d) Dokumen-dokumen termasuk catatan-catatan, yang disyaratkan oleh standar OHSAS ini;
e) Dokumen-dokumen, tarmasuk catatan-catatan, yang ditetapkan oleh organisasi yang dianggap penting untuk memastikan perencanaan, operasi dan pengendalian proses yang berhubungan dengan pengendalian dengan pengendalian risiko-risiko K3 efektif.
CATATAN Penting diperhatikan bahwa dokumentasi harus proporsional dilihat dari tingkat kompleksitas, bahaya-bahaya dan risiko-risiko dan dibuat seminimum mungkin untuk efektivitas dan efisiensi. Participatian and consultation Participatian and consultation
The organization shall establish, implement and maintain a procedure(s) for:
a) The participation of workers by their:
• Appropriate involvement in hazard identification, risk assessment and determination of controls;
• Appropriate involvement in incident investigation;
• Involvement in the development and review of OH&S policies and objectives;
• Consultation where there are any changes that affect their OH&S;
• Representation on OH&S matters. Workers shall be informed about their participation arrangements, including who is their representative(s) on OH&S matters.
b) Consultation with contractors where there are changes that affect their OH&S.

The organization shall ensure that, when appropriate, relevant external interested parties are consulted about pertinent OH&S matters. Partisipasi dan konsultasi
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara prosedur untuk:
a) partisipasi pekerja melalui:
• Keterlibatannya dan identifikasi bahaya, penilaian risiko dan penetapan pengendalian.
• Keterlibatannya dalam penyelidikan insiden
• Keterlibatannya dalam pengembangan dan peninjauan kebijakan dn tujuan K3
• Konsultasi dimana ada perubahan yang berdampak pada K3;
• Diwakilkan dalam hal-hal terkait K3. Pekerja harus diinformasikan terkait pengaturan partisipasi, termasuk siapa yang menjadi wakil mereka dalam hal-hal terkait K3
b)Konsultasi dengan para kontraktor atas perubahan-perubahan yang terjadi dan berdampak
pada K3.
Organisasi harus memastikan, sesuai keperluan, pihak-pihak terkait yang relevan dikonsultasikan terkait hal-hal K3.

4.4.3 Communication, participation and consultation Communication

4.4.3 Communication, participation and consultation Communication
With regard to its OH&S hazards and OH&S management system, the organization shall establish, implement and maintain a procedure(s) for:
a) Internal communication among the various levels and functions of the organization;
b) Communication with contractors and other visitors to the workplace;
c) Receiving , documenting and responding to relevant communications from external interested parties.

4.4.3 Komunikasi, partisipasi dan konsultasi Komunikasi
Sesuai dengan bahaya-bahaya K3 dan system manajemen K3, organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara prosedur untuk:
a) Komunikasi internal antar berbagai tingkatan dan fungsi dalam organisasi
b) Komunikasi dengan para kontraktor dan tamu lainnyake tempat kerja
c) Menerima, mendokumentasikan dan merespon komunikasi yang relevan dari pihak-pihakekternal terkait.

4.4.2 Competence, training and awareness

4.4.2 Competence, training and awareness
The organization shall ensure that any person (s) under its control performing tasks that can impact on OH&S is (are) competent on the basis of appropriate education, training or experience, and shall retain associated records.

The organization shall identify training needs associated with its OH&S risks and its OH&S management system. It shall provide training or take other action to meet these needs, evaluate the effectiveness of the training or action taken, and retain associated records.

The organization shall establish, implement and maintain a procedure(s) to make persons working under its control aware of:
a) The OH&S consequences, actual or potential, of their work activities, their behavior, and the OH&S benefit of improved personal performance;
b) Their roles and responsibilities and importance in achieving conformity to the OH&S policy and procedures and to the requirements of the OH&S management system, including emergency preparedness and response requirements (see 4.4.7);
c) The potential consequences of departure from specified procedures.

Training procedures shall take into account differing level of:
a) Responsibility, ability, language skills and literacy; and
b) Risk.

4.4.2 Kompetensi, pelatihan dan kepedulian
Organisasi harus memastikan bahwa setiap orang dalam pengendaliannya yang melakukan tugas-tugas yang mempunyai dampak pada K3 harus kompeten sesuai dengan tingkat pendidikan, pelatihan dan /atau pengalaman, dan menyimpan catatan-catatannya.

Organisasi harus mengidentifikasi kebutuhan pelatihan sesuai dengan risiko-risiko K3 terkait dan system manajemen K3. Organisasi harus menyediakan pelatihan atau mengambil tindakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, melakukan evaluasi efektifitas pelatihan atau tindakan yang diambil, dan menyimpan catatan-catatannya.

Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara prosedur untuk memastikan semua orang yang bekerja dalam pengendaliannya peduli akan:
a) Konsekuensi-konsekuensi K3, yang actual atau potensial, kegiatan kerjanya, perilakunya, serta manfaat-manfaat K3 untuk peningkatan kinerja perorangan;
b) Peranan dan tanggungjawabnya dan pentingnya dalam mencapi kesesuaiannya dengan kebijakan dan prosedur-prosedur K3 dan dengan persyaratan kesiapsiagaan dan tanggap darurat (lihat 4.4.7);
c) Konsekuensi potensial dari penyimpangan dari prosedur yang telah ditetapkan.

Prosedur pelatihan harus mempertimbangkan tingkat perbedaan dari:
a) Tanggung jawab, kemampuan, bahasa dan ketrampilan;dan
b) Risiko

4.4 Implementation and operation 4.4.1 Resources, roles, responsibility, accountability and authority

4.4 Implementation and operation
4.4.1 Resources, roles, responsibility, accountability and authority

Top management shall take ultimate responsibility for OH&S management system.

Top management shall demonstrate its commitment by:
a) Ensuring the availability of resources essential to establish, implement, maintain and improve the OH&S management system; NOTE 1: Resources include human resources and specialized skills, organizational infrastructure, technology and financial resources.
b) Defining roles, allocating responsibilities and accountability, and delegating authorities, to facilitate effective OH&S management ; roles, responsibilities, accountabilities, and authorities shall be documented and communicated.

The organization shall appoint a member(s) of top management with specific responsibility for OH&S, irrespective of other responsibilities, and with defined roles and authority for:
a. Ensuring that the OH&S management system is established, implemented and maintained in accordance with this OHSAS Standard;
b. Ensuring that reports on the performance of the OH&S management for review and used as a basis for improvement of the OH&S management system.

NOTE 2: The top management appointee (e.g. in a large organization, a Board or executive committee member) may delegate some of their duties to a subordinate management representative(s) while still retaining accountability.

The identity of the top management appointee shall be made available to all persons working under the control of the organization.

All those with management responsibility shall demonstrate their commitment to the continual improvement of OH&S performance.

The organization shall ensure that persons in the workplace take responsibility for aspects of OH&S over which they have control, including adherence to the organization’s applicable OH&S requirements.

4.4 Penerapan dan operasi
4.4.1 Sumberdaya, peran, tanggungjawab, akuntabilitas dan wewenang

Manajemen puncak harus menjadi penanggungjawab tertinggi untuk system manajemen K3
Manajemen puncak harus memperlihatkan komitmentnya dengan:
a. Memastikan ketersediaan sumberdaya yang esensial untuk membuat, menerapkan, memelihara dan meningkatkan system manajemen K3;
CATATAN1 sumberdaya termasuk sumberdaya manusia dan ketrampilan khusus , r, teknologi
Dan financial.
b. Menetapkan peran-peran, alokasi tanggungjawab dan akuntabilitas, dan delegasi wewenang, untuk memfasilitasi efektivitas system manajemen K3, peran, tanggungjawab, akuntabilitas dan wewenang harus didokumentasikan dan dikomunikasikan.

Organisasi harus menunjuk seorang anggota manajemen puncak dengan tanggungjawab khusus K3, di luar tanggungjawabnya, dan menetapkan peran-peran dan wewenang untuk:
a) Menjamin system manajemen K3 dibuat, diterapkan, dan dipelihara sesuai dengan standar OHSAS ini;
b) Melaporkan kinerja system manajemen K3 kepada manajemen puncak untuk dikaji dan sebagai dasar untuk peningkatan system manajemen K3.
CATATAN 2: Anggota manajemen puncak yang ditunjuk (mis, Dalam organisasi besar, seorang anggota Direksi atau komite eksekutif) dapat mendelegasikan beberapa tugas-tugasnya kepada wakil manajemen bawahannya sementara tetap memegang akuntabilitasnya.

Penunjukan anggota manajemen puncak harus tersedia kepada seluruh orang yang bekerja di dalam kendali organisasi.

Semuanya dengan tanggungjawab manajemen harus memperlihatkan komitmentnya untuk meningkatkan kinerja K3.

Organisasi harus memastikan bahwa orang-orang yang berada di tempat kerja bertanggungjawab untuk aspek-aspek K3 di dalam kendali mereka, termasuk kepatuhan pada persyaratan K3 organisasi yang relevan.

4.3.3 Objectives and Programme (s)

4.3.3 Objectives and Programme (s)
The organization shall establish, implement and maintain documented OH&S objectives, at relevant functions and levels within the organization.

The organization shall be measurable, where practicable, and consistent with the OH&S policy, including the commitments to the prevention of injury and ill health, to compliance with applicable legal requirements and with other requirements to which the organization subscribes, and to continual improvement.

When establishing and reviewing its objectives, an organization shall take into account the legal requirements and other requirements to which the organization subscribes, and its OH&S risk. It shall also consider its technological options, its financial, operational and business requirements, and the views of relevant interested parties.

The organization shall establish, implement and maintain a programme(s) for achieving its objectives, Programme(s) shall include as a minimum:
a) Designation of responsibility and authority for achieving objectives at relevant functions and levels of the organization; and
b) The means and time-frame by which the objectives are to be achieved.

The programme(s) shall be reviewed at regular and planned intervals, and adjusted as necessary, to ensure that the objectives are achieved.

4.3.3 Tujuan dan Program
Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara tujuan dan sasaran K3 yang terdokumentasi, pada setiap fungsi dan tingkat yang relevan di dalam organisaasi.

Tujuan-tujuan harus dapat diukur bila memungkinkan, dan konsisten dengan kebijakan K3, termasuk komitmen untuk mencegah cidera dan sakit penyakit, memenuhi peraturan perundangan yang relevan dan persyaratan lain dimana organisasi mendapatkan dan untuk peningkatan berkelanjutan.

Pada saat membuat dan meninjau tujuan-tujuan tersebut, organisasi harus mempertimbangkan peraturan perundangan dan persyaratan K3 lainnya di manaorganisasi mendapatkan, dan risiko-risiko K3. Juga mempertimbangkan aspek teknologi, aspek keuangan, persyaratan operasional dan bisnis, dan pandangan dari pihak-pihak terkait.

Organisasi harus membuat, menerapkan dan memelihara suatu program untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Program minimum harus memasukkan:
a) Penunjukan penanggung jawab dan kewenangan untuk mencapai tujuan pada setiap fungsi dan tingkat organisasi; dan
b) Cara-cara dan jangka waktu untk mencapai tujuan.

Program menejemen K3 harus dikaji pada interval waktu yang teratur dan terencana. Dan dirubah sesuai kebutuhan, untuk memastikan tujuan-tujuan tercapai.